Jurus mengoptimalkan perpustakaan

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Jurus mengoptimalkan perpustakaan

Pustakawan dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT-UGM), Purwoko mengusulkan enam langkah dalam meningkatkan kinerja perpustakaan di Indonesia.

“Berdasarkan hasil penelitian kami, perlu diupayakan beberapa saran yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja perpustakaan,” ujar dia dalam siaran persnya saat diskusi tentang Perilaku Informasi Penggunaan Perpustakaan Teknik Geologi UGM, di Kampus Fakultas Teknik UGM, Selasa (13/02/2018).

Purwoko menerangkan, keenam saran itu adalah pertama, penambahan koleksi-koleksi di luar disiplin ilmu geologi sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan yang berkaitan dengan minat khusus pemakai perpustakaan. Selain itu, juga sebagai sarana dinamisasi informasi yang ada di perpustakaan.

Kedua, perlu adanya dorongan baik dari pustakawan maupun para staf akademik dalam pemanfaatan koleksi terbitan berkala, khususnya jurnal.

“Hal ini penting sebagai pemicu awal kepada para pemakai perpustakaan supaya memahami arti penting koleksi terbitan berkala. Sebabcontent terbitan berkala sangat penting bagi kebutuhan informasi mahasiswa dan pengguna perpustakaan itu sendiri,” terang Purwoko.

Ketiga, perlu diupayakan peningkatan aspek fisik perpustakaan yang ideal sehingga diharapkan tercipta kondisi ruang perpustakaan yang kondusif untuk pengguna perpustakaan.

Keempat, perlu dioptimalkannya penggunaan sarana pencarian (katalog). Hal ini dapat dilaksanakan dengan pelaksanaan pendidikan pemakai, maupun dengan memberikan perhatian khusus pada pemakai yang dipandang kesulitan dalam melakukan pencarian. Peningkatan akurasi data bibliografi merupakan hal yang harus pula diperhatikan dalam rangka optimalisasi sarana pencarian.

Kelima, perlu diperhatikan peningkatan aspek privacy pada layanan yang diberikan perpustakaan, khususnya pelayanan internet.

“Dalam hal ini, akses dan kecepatan internet menjadi sangat penting agar proses pembelajaran serta pencarian informasi dapat dilakukan secara optimal,” papar Purwoko lagi.

Keenam, untuk lebih mengoptimalkan proses mental penggunaan informasi, perpustakan dapat mendorong atau menyediakan tempat dan suasana dialektika antar pemakai perpustakaan.

“Perlu diselenggarakan kegiatan-kegiatan yang dapat menyemarakkan perpustakaan. Dalam hal ini pustakawan bukan sekedar Event Organizer (EO), namun juga menjadi pemateri atau ikut dalam kegiatan tersebut. Skill dan pengetahuan pustakawan menjadi sangat penting dibutuhkan,” tambah dia.

Kebutuhan informasi

Menurut dia, kebutuhan informasi pada masa mahasiswa berkaitan dengan tugas perkuliahan dan minat pribadi. Kebutuhan informasi yang diutamakan untuk dipenuhi adalah kebutuhan yang berkaitan dengan perkuliahan, sedangkan kebutuhan informasi berkaitan dengan minat menjadi prioritas kedua.

“Artinya, mahasiswa akan bersentuhan dengan perpustakaan ketika memerlukan informasi yang terkait tugas perkuliahannya. Selain itu, kunjungan ke perpustakaan juga sangat terkait dengan aspek fisik dan kelengkapan koleksi yang dimiliki perpustakaan itu,” ungkap dia.

Ia menambahkan, melalui 6 usulan diatas diharapkan seluruh masyarakat Indonesia semakin gemar untuk berkunjung ke perpustakaan, baik yang tersedia secara umum maupun perpustakaan yang khusus di suatu perguruan tinggi.

Tantangan digital

Sementara itu, Pengamat Kebijakan Publik bidang Sosial dari Universitas Indonesia (UI) Radja Napitupulu menilai, kunjungan masyarakat ke perpustakaan saat ini berhadapan langsung dengan tantangan digital yang melanda masyarakat Indonesia. Itu sebab, tingkat kunjungan ke perpustakaan terus menurun apalagi dengan kondisi fisik dan koleksi buku perpustakaan yang sangat terbatas.

“Era digital saat ini sangat menghantui kinerja perpustakaan di Indonesia. Ditambah lagi kinerja sumber daya manusia (SDM)-nya yang masih perlu ditingkatkan secara optimal, sehingga bisa melayani pengguna perpustakaan dengan efektif dan professional,” jelas dia.

Karena itu, lanjut Radja, upaya peningkatan pelayanan perpustakaan baik yang terkait fisik, koleksi, dan fasilitas lainnya, mutlak perlu diwujudkan. Terutama, ketika perpustakaan hendak mengadopsi teknologi dalam meningkatkan kinerjanya, sehingga konsep perpustakaan kekinian seperti penggunaan e-book dapat diterapkan perpustakaan di seluruh Indonesia.

“6 Usulan diatas sebaiknya dilakukan secara serius, bertahap, dan konsisten. Sehingga target yang ingin dicapai setiap perpustakaan dalam memenuhi informasi ilmiah masyarakat, dapat terwujud optimal. Bukan sekedar informasi biasa, apalagi informasi palsu atau hoax. Tujuannya, agar kapasitas perpustakaan mampu memenuhi kebutuhan pencarian informasi masyarakat,” tandas dia.

Kunjungan menurun

Data berbagai perpustakaan di Indonesia mencatat, tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan terus mengalami penurunan. Pemerintah diminta melakukan terobosan untuk meningkatkan kunjungan masyarakat ke perpustakaan sebagai salah satu upaya mencerdaskan bangsa.

Beragam isu yang siap digoreng pada 2018 dan 2019
Tak setiap orang pantas menerima bantuan
Cabe-cabean dan kesalahan relawan
Capres neolib dan sederet penghargaan
Film dokumenter Paus Fransiskus
Fetching news ...