Ideas

Manfaatkan lahan pekaranganmu untuk Urban Farming!

REPORTED BY: Siti Dzakiyyah

Manfaatkan lahan pekaranganmu untuk Urban Farming! Dengan melakukan aktivitas urban farming, masyarakat mendapat ketersediaan sayuran sebagai sumber nutrisi sehat, mengurangi impor sayuran, menghijaukan lingkungan, dan membantu mengurangi dampak pemanasan global.

Tren urban farming kini sudah menjamur di masyarakat. Di berbagai kota, Pertanian Perkotaan menjadi pendukung aspek keindahan kota dan kelayakan penggunaan tata ruang yang berkelanjutan. Pertanian Perkotaan juga dilakukan untuk meningkatkan pendapatan atau aktivitas memproduksi bahan pangan untuk dikonsumsi keluarga, dan di beberapa tempat dilakukan untuk tujuan rekreasi dan relaksasi.

Konsep urban farming lahir akibat peningkatan populasi manusia dari tahun ke tahun yang mendorong terjadinya alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan industri dan pemukiman. Hal ini menyebabkan berkurangnya lahan pertanian dan berdampak langsung pada penurunan produksi hasil pertanian sehingga kebutuhan pangan masyarakat tidak mampu terpenuhi.

Di sisi lain, usaha peningkatan produksi pertanian dengan cara ekstensifikasi (pemekaran lahan) pun tidak mampu dilakukan karena membutuhkan biaya yang cukup besar serta infrastruktur yang memadai. Urban Farming diharapkan menjadi salah satu solusi untuk menyikapi kegelisahan masyarakat terhadap semakin terbatasnya lahan pertanian.

Maka mulailah lahan-lahan kosong di daerah perkotaan dipakai sebagai tempat bercocok tanam. Mulai dari lahan sempit di depan rumah hingga atap - atap gedung-gedung pencakar langit, kini dimanfaatkan sebagai tempat untuk melaksanakan kegiatan berkebun. Selain menyenangkan, urban farming juga membantu memberikan kontribusi terhadap ruang terbuka hijau kota dan ketahanan pangan. Bisa dibayangkan jika setiap gedung mengadopsi kegiatan urban farming.

Dengan melakukan aktivitas urban farming, masyarakat mendapat ketersediaan sayuran sebagai sumber nutrisi sehat, mengurangi impor sayuran, menghijaukan lingkungan, dan membantu mengurangi dampak pemanasan global. Pemahaman yang lebih mendalam dan meluas mengenai urban farming mengantarkan konsep ini tidak lagi sekadar gaya hidup kaum urban, tapi meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kualitas makanan, gizi, kesehatan dan lingkungan sekitar. Secara umum, urban farming dibagi menjadi 3 model utama antara lain:

1. Vertikultur

Pertanian menggunakan sistem pot bertingkat (vertikultur) merupakan solusi bagi yang berminat dalam budidaya tanaman namun memiliki ruang atau lahan sangat terbatas. Sistem pertanian vertikultur menghemat pemakaian pupuk dan pestisida, efisiensi penggunaan lahan dan mempermudah monitoring atau pemeliharaan tanaman. Budidaya tanaman ini memerlukan beberapa media untuk menunjang perakaran.

2. Budaya Cocok Tanam Terrasering

Budaya cocok tanam terassering banyak ditemui di daerah lereng gunung. Penggunaan lahan secara terrasering dimaksutkan untuk mengantisipasi terjadinya tanah longsor. Selain itu, model penanaman semacam ini menambah pemandangan di kaki gunung berapi.

3. Hidroponik

Konsep hidroponik yaitu budidaya tanaman tanah dan memanfaatkan air sebagai media tanam atau soiless. Teknik hidroponik banyak dilakukan dalam skala kecil sebagai hobi di kalangan masyarakat Indonesia. Pemilihan jenis tanaman yang akan dibudidayakan untuk skala usaha komersial harus diperhatikan, karena tidak semua hasil pertanian bernilai ekonomis.

Urban Farming memiliki beberapa manfaat yang dilihat dari segi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan antara lain:

Pertama, aspek sosial. Pertanian di tengah kota ini sebagai wujud pembangunan berkelanjutan sehingga memiliki dampak positif bagi perkembangan suatu kota. Selain itu, proyek ini dapat mendukung stabilitas sosial karena lingkungan yang menjadi nyaman dan sumber pengetahuan dan budaya.

Kedua, aspek ekonomi. Pengimplementasian gagasan ini mengoptimalkan nilai-nilai ekonomis seperti pemanfaatan hasil pertanian, perikanan dan peternakan sebagai bahan pangan yang langsung dapat didistribusikan ke masyarakat tengah kota.

Ketiga, aspek lingkungan. Gagasan ini sangat memperhatikan keadaan lingkungan sekitarnya selama proses pelaksanaan. Pengimplementasian proyek ini juga menjadi salah satu upaya penghijauan tengah kota.

Jokowi pilih kostum khusus saat debat dengan Prabowo
Demokrat nilai pembentukan TGPF Novel sarat kepentingan politik Jokowi
Fahri Hamzah: Debat pilpres jangan seperti lomba cerdas cermat
Jelang debat, Zulkifli Hasan sarankan Prabowo-Sandi santai-santai
Rizal Ramli tak percaya lembaga survei
Ignasius Jonan mangkir, DPR kecewa
Anggota DPR banyak tak lapor harta kekayaan, ini kata sang Ketua
Polemik pembangunan tol, Fahri Hamzah: itu tol punya swasta
TKN pertimbangkan gelar pidato kebangsaan ala Jokowi
Arus modal masuk berpotensi buat IHSG naik hari ini
Kemendikbud tak ingin ada sekolah favorit
Ini tiga ciri pemerintahan Jokowi otoriter menurut Amien Rais
 Lagu Jogja Istimewa dijiplak pendukung Prabowo, Ini respons Kubu Jokowi
PKS nilai pidato Prabowo tepis anggapan pesimisme
Kubu Prabowo minta KPK periksa Tjahjo Kumolo terkait kasus Meikarta
Fetching news ...