Readup

Mengungkap dan mengakui diri disfungsi

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Mengungkap dan mengakui diri disfungsi "Orang yang sehat tidak perlu menyembunyikan sesuatu dari dirinya." - John dan Linda Friel

Di antara sikap paling berani yang kita dapat lakukan untuk tumbuh menjadi pribadi yang sehat adalah mengakui dan mengungkapkan bahwa kita selama ini memendam aneka luka perasaan. 

Lara terpendam yang belum terobati tersebut akan merintangi pertumbuhan psikologis kita, sementara di saat yang sama fisik kita terus tumbuh. Para ahli kemudian menyebut orang yang secara fisik dewasa tetapi secara mental belum sebagai kanak-dewasa (adult-child), atau dalam bahasa sehari-hari “orang dewasa yang kekanak-kanakan.”

Banyak orang memilih menolak (denial) untuk mengakui bahwa ada masalah dalam diri mereka. Penolakan dalam jangka pendek terkadang memang dibutuhkan karena kerap berangkat dari pilihan logis, terutama untuk menghindari konflik. Misalnya, ada orang yang lahir dari keluarga penuh kekerasan. Ayahnya melakukan kekerasan (visik, verbal, emosional atau seksual) kepada ibu dan semua anak-anaknya. Sang anak di kemudian hari mungkin akan mengatakan, “Saya dapat sukses seperti sekarang karena didikan yang keras dari ayah.”

Di sini, penolakan (bahwa kekerasan adalah masalah) menjadi respons satu-satunya bagi anak untuk sintas sebagai anak-anak yang lemah dalam suasana keluarga yang mencekam. Sistem penolakan akan berubah menjadi masalah ketika penolakan yang tadinya untuk alasan yang masuk akal berubah menjadi jeratan, yang membuat orang tak bisa keluar dari fase tersebut.

Masalah yang kemungkinan akan dihadapi oleh orang di atas ketika dewasa dan/atau mau menikah adalah saat dia ingin menjalin relasi dengan penuh kebahagiaan. Orang ini dalam relasi pertemanan atau kerja akan berada pada situasi seperti ayahnya (pelaku kekerasan) atau ibunya (yang menerima kekerasan sebagai takdir). 

Ketika dia mendapatkan dampratan dari atasan di tempat kerja, dia akan mengatakan itu hal biasa; padahal, hatinya akan hancur karena dia akan teringat bagaimana sang ayah dulu memperlakukannya. Sebaliknya, ketika dia marah dan temannya pergi, dia akan tersiksa karena dia berpikir teman tersebut seharusnya tidak menjauh sebagaimana dirinya yang tetap dekat dengan sang ayah meskipun dia bertubi-tubi menerima kekerasan.

Ketika menikah, dia mungkin akan bersumpah tak bakal melakukan kekerasan kepada pasangan atau anak. Akan tetapi, situasi yang dihadapinya adalah dia justru kemungkinan akan sering uring-uringan dengan pasangan sekaligus anak. Lalu, dia bingung mengapa siklus kekerasan tersebut menjeratnya.

Akhirnya, dia depresi, lelah,cemas, hingga putus asa bagaimana cara memperbaiki keadaan. Di sinilah sistem penolakan tersebut bekerja untuk menghambat dia tumbuh kembang secara seimbang, antara fisik dan mentalnya. Hasilnya adalah kerumitan menjalin hubungan yang sehat dan menyenangkan.

Apa yang terjadi pada diri orang tersebut adalah hasil kristalisasi cara pandang dan kehendak yang dipupuk selama bertahun-tahun. Pertanyaannya adalah apakah mungkin dia bakal sembuh dalam semalam, simsalabim?! Jika hal itu terjadi, kemungkinan capaian tersebut adalah hasil dari perjuangan internal selama bertahun-tahun dan baru tersingkap saat itu. 

Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa tahapan untuk menyembuhkan gejala kanak-dewasa, dan langkah pertamanya adalah pengungkapan dan pengakuan seperti yang disebut di awal. John dan Linda Friel dalam Adult Children The Secrets of Dysfunctional Family (1988: 169-174) mengatakan proses ini membutuhkan kejujuran, tujuan yang jelas, dan kepercayaan terhadap diri serta lingkungan. Untuk melakoni proses ini, pasutri John dan Linda menyebut setidaknya ada 4 tahap:

1. Luangkan waktu untuk menyendiri, menjauh dari hiruk-pikuk. Cobalah untuk benar-benar meresapi apa yang Anda rasakan saat ini. Apakah kehidupan yang Anda jalankan sudah bagus? Utuh? Hangat? Atau membosankan? Mencekam? Galau? Siapa orang yang membebani Anda? Apakah mereka hanya sedikit? Atau terlalu banyak? Apakah Anda selama ini hidup bersama dengan tipe orang yang Anda inginkan? Apakah Anda mencintai orang-orang yang ada di sekitar Anda? Apakah orang-orang mencintai Anda dengan tulus? 

Anda dapat menyebut proses ini sebagai uzlah, quiet time, semedi, tafakur dan sejenisnya. Alokasikan waktu 30 menit sampai satu jam. Siapkan alat tulis dan catat semua perasaan Anda. Mencatat penting sebagai bahan refleksi dan merekam kemajuan proses. Lakukan sehari sekali, atau sesuaikan dengan kesibukan dan kebutuhan Anda. Ingat bahwa Anda melakukan ini untuk kepentingan Anda sendiri, bukan yang lain. Perhatikan juga bahwa perasaan kitalah yang menentukan siapa sejatinya diri kita. Semua perasaan kita adalah alamiah, jangan disalahkan.

2. Setelah melakukan proses pertama, mulailah membahasnya dengan seseorang: teman atau pasangan. Ajaklah mereka berdiskusi tentang cara pandang Anda terhadap sesuatu, apakah sama atau berbeda dengan mereka. Cara pandang Anda dan pasangan atau teman tidak harus sama. Akan tetapi, jika dalam diskusi tersebut Anda dihalangi untuk mengungkapkan perasaan (emotional isolation), artinya Anda memiliki salah satu gejala kanak-dewasa.
Apakah dalam pembicaraan tersebut partner Anda merasa bahwa Anda seorang workaholik atau pemalas di tempat kerja? Jika “iya”, bagaimana dengan atasan dan teman kantor lainnya? Apakah Anda memiliki orang lain yang dapat Anda ajak bicara selain pasangan terkait “urusan pribadi”? Jika tidak, Anda dapat dikatakan 100% memiliki masalah.

John dan Linda menegaskan ketakutan bahwa orang lain mengetahui siapa kita sebenarnya merupakan gejala yang sangat jelas dari disfungsi. Orang yang sehat tidak perlu menyembunyikan sesuatu dari dirinya.

3. Dapatkan informasi tentang gejala kanak-dewasa dari sumber-sumber terpercaya, bisa dari buku, seminar, komunitas, atau ahli. Tahap ketiga akan membantu Anda lebih dalam memahami masalah yang sedang Anda hadapi. 

Di Amerika, misalnya, ada komunitas Alcoholics Anonymous (AA) yang didirikan pada 1935 oleh Bill Wilson and Bob Smith di Ohio. Organisasi ini banyak diikuti oleh orang-orang terkenal, tetapi nama-nama mereka dirahasiakan. Organisasi ini kemudian mendunia. Di Indonesia, saya mencermati belum banyak komunitas seperti ini; untuk menyebut salah satunya adalah Sekolah Rekonsiliasi (SR). Anda dapat menghubungi komunitas tersebut setiap saat melalui media sosial.

4. Selanjutnya adalah mengambil keputusan bagaimana Anda harus menjalani kehidupan saat ini. Keputusan ini mungkin tak akan serta-merta terjadi, terkadang ada tarik-ulur antara percaya atau tidak bahwa diri mengidap gejala kanak-dewasa yang lahir dari keluarga disfungsi. Bahkan, mereka yang sudah menjalani terapi oleh psikiater sekalipun terkadang putus di tengah jalan.

AA mempunyai jargon bahwa penyembuhan ‘recovery’ adalah proses, dan bagian dari proses tersebut yakni mengakui dengan saksama bahwa diri adalah seorang kanak-dewasa. 

Terapis keluarga disfungsi asal Malaysia, Nandor Lim mengatakan kita tidak dapat keluar dari derita kecuali dengan menjalaninya. Maksudnya, proses penyembuhan yang kita jalani jangan sampai berhenti dengan penolakan. Pengakuan dan pengungkapan akan mengundang pertolongan. 

PAN: penjarahan masih terjadi di Palu dan Donggala
Kubu Prabowo: Kampanye tak harus selalu pencitraan
Legislator ajak seret Myanmar ke Mahkamah Internasional
Demokrat beri masukan jelang empat tahun pemerintahan Jokowi
Panggil Kepala Daerah, kubu Jokowi nilai Bawaslu berlebihan
Peluru yang nyasar ke DPR berasal dari senjata modifikasi
Bawaslu akan panggil Jokowi-Ma'ruf, Timses: capres-cawapres sibuk
DPR dorong alokasi beasiswa korban bencana Sulteng
Ketua MKD datangi lokasi penembakan DPR
Bamsoet minta DPR RI dilapisi kaca anti peluru
Politisi Gerindra: polisi tak profesional simpulkan kasus penembakan
Polisi sebut penembak Gedung DPR berinisial I
Bupati Bekasi dan Direktur Lippo tersangka suap Meikarta
Kubu Jokowi tak tergoda kampanye negatif PKS
Demokrat tidak sanksi cuitan Andi Arief
Fetching news ...