Readup

Konsep ketuhanan Marapu, agama asli Pulau Sumba

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Konsep ketuhanan Marapu, agama asli Pulau Sumba

Agama Marapu adalah sebuah agama lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba sejak ratusan tahun lalu. Agama ini merupakan kepercayaan yang memuja roh nenek moyang dan leluhur.

Penganut agama ini melakukan pemujaan kepada Marapu, yaitu arwah dari para leluhur yang bertindak sebagai ‘Dikita–No’neka, yang merupakan perantara antara manusia dengan Tuhan (Magholo–Marawi). Peranan Magholo–Marawi adalah menciptakan, memelihara, melimpahkan rizki, keturunan, kesehatan dan menetapkan umur manusia dan semua makluk ciptaan yang lain.

Di’kita–No’neka diyakini sebagai para leluhur yang sudah mengalami perjumpaan dengan Magholo–Marawi. Para leluhur tersebut ketika selagi masih hidup di bumi, suci hatinya, sakti dan tidak pernah berbuat jahat. Maka, apa yang diucapkannya akan menjadi kenyataan. Kalau mengatakan kepada seekor binatang hanya dengan menunjukkan jari tangannya ke arah binatang itu matilah, maka binatang itu benar-benar mati.

Agama Marapu diyakini sebagai "sumbu hidup" nenek moyang penduduk Sumba, baik selama di bumi maupun di dunia lain. Sumbu hidup itu hingga kini masih diamini oleh sebagian besar masyarakat. Ini dibuktikan oleh masih kuatnya norma Marapu menjadi acuan dalam mengatur tatanan sosial warga sehari-hari.

Tidak ada kitab suci atau buku panduan tentang aliran marapu. Ajarannya hanya diturunkan dari mulut ke mulut. Akibatnya, keaslian ajaran tak lagi sama dalam pandangan penganut Marapu, bahkan bagi Rato atau Imam Marapu sekalipun. Namun, ucapan yang disampaikan sang Rato ini dipercaya sebagai perkataan Tuhan, berisi tuntunan hidup.

Wujud tertinggi dalam agama Marapu disebut Mori (pemilik) atau Magholo – Marawi yang diyakini berperan sebagai pencipta langit dan bumi dengan segala isinya. Dalam acara ritual agama/kepercayaan Marapu ada yang disebut Ma’urrata atau sering disingkat dengan kata ‘Urrata saja, yang diyakini sebagai wujud tertinggi yang diimani sebagai pencipta langit dan bumi dengan segala isinya itu, yang mampu mendengarkan dan mengabulkan permohonan manusia yang selalu setia berbakti padanya.

‘Urrata diyakini mengatur kehidupan manusia, yang dapat menjadikan orang menjadi kaya, sehat dan umur panjang. Dialah yang menentukan nasib seseorang. Dialah hakim yang maha adil, yang akan menghukum orang yang bersalah sesuai dengan tingkat kesalahannya dan memberikan berkat bagi orang yang patuhi larangan–larangan Marapu.

Konsep Roh

Dalam Ensiklopedia Meyakini Menghargai (2018: 97) disebutkan bahwa penganut Marapu meyakini dua arwah leluhur yaitu Hawangu (jiwa semangat), yaitu roh manusia saat masih hidup, yang membuatnya dapat berpikir, merasa, dan bertindak.

Kedua adalah Ndiawa atau Ndewa (roh suci dewa) adalah Hawangu yang telah meninggalkan tubuh dan menjadi makhluk halus.

Agama ini meyakini bahwa tidak hanya manusia yang memiliki jiwa dan perasaan, tetapi semua benda dan tumbuhan. Penganut Marapu yang ingin menghindari roh jahat harus mengikuti seluruh ajaran dan tata aturan yang ada di agama ini.

Meskipun tiap-tiap keluarga memiliki Marapu yang dipuja dan disembah, tujuan upacara pemujaan bukan kepada Marapu tersebut, tetapi kepada Mawulu Tau Majul Tau (pencipta dan pembuat manusia).

Tuhan dalam agama Marapu biasa dipanggil dengan sejumlah metafora untuk menjaganya tetap suci dan tidak boleh terlalu sering disebut.

Simbol wujud Marapu dapat berupa perhiasan emas, perak, atau berupa patung dan guci yang disebut Tanggu Marapu. Simbolisasi warna yang digunakan didominasi merah dan hijau. Merah melambangkan bumi, sementara hijau dianggap lambang langit.

Penganut agama MArapu meyakini bahwa seetlah kematian, mereka akan pergi ke tempat sangat indah bernama Prai Marapu, yang mirip dengan konsep surga dalam banyak agama lain.

Menurut Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sumba Timur (Sumtim), NTT, hingga 31 Januari 2018, jumlah penduduk Sumtim yang menganut aliran Kepercayaan Marapu terdata sebanyak 18.414 jiwa.